Permadi: Jokowi-Ahok Belum Tentu Bisa Benahi Ibu Kota
Selasa, 31 Juli 2012 19:39 wib wib
JAKARTA - Isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) masih semarak menjelang putaran kedua Pilgub DKI 2012. Banyak pihak yang menyayangkan hal ini. Pasalnya, ada etnis tertentu yang diserang. Politisi senior Permadi mengatakan, etnis mana pun bisa saja memimpin Jakarta. Dia juga mengatakan masih ada kesempatan kepada dua pasangan calon yang nanti akan bertarung di putaran ke dua, yaitu Foke-Nara dan Jokowi-Ahok.
"Bukan masalah etnisnya, tapi siapa yang bisa benahi Jakarta. Siapa pun yang jadi gubernur bila tak ada ketegasan akan rusak Jakarta ini. Foke jelas tidak mungkin, karena 5 tahun yang lalu saja dia tak mungkin. Jokowi-Ahok juga masih belum tentu karena mereka dari kota kecil dan menjadi pertanyaan apa bisa membangun kota besar seperti Jakarta," katanya dalam diskusi bertema Mempertahankan Komitmen Keturunan China di Jakarta, Selasa (31/7/2012).
Isu SARA ini muncul, kata dia, karena sengaja disebar oleh pihak yang tidak terima atas hasil pada putaran pertama. Isu SARA inilah yang digunakan untuk kepentingan pribadi sang penggelontor isu. "Saya khawatir kejadian waktu zaman VOC terjadi lagi," tegasnya. Karena itu, lanjutnya, seluruh komponen harus menjaga dan menenangkan serta harus berhati-hati agar tidak terjadi hal yang demikian. "Kita beri penjelasan bahwa memang ada yang menang dan kalah. Itu jelas," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Chairman Global Nexus Institute, Christianto Wibisono, mengatakan bila isu ini tetap merebak tentu akan berdampak besar untuk integritas Jakarta. "Karena itu, mari kita berdoa agar hati nurani agar pimpinan kita tak melakukan itu," kata dia.
http://jakarta.okezone.com/read/2012...-pintar-pintar
"Jakarta Butuh Pemimpin yang Bisa Rangkul Semua Golongan"
Selasa, 3 Juli 2012 23:03 wib wib
JAKARTA- Kampanye pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) DKI Jakarta telah berlangsung sejak 25 Juni 2012 silam. Enam pasangan calon Gubernur dan calon wakil Gubernur DKI Jakarta berlomba-lomba 'menjual' visi dan misi ke masyarakat. Namun, tak jarang dalam kampanye tersebut para calon kerap menyeret hal-hal yang bersifat sensitif, termasuk persoalan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA).
Menurut mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DKI Jakarta, Arif Rahman ada salah satu calon gubernur DKI Jakarta yang mengatakan bahwa Negara harus lebih patuh pada ayat konstitusi daripada ayat suci. Hal itu, menurut sangat kurang layak. "Kalau mereka memahami esensi dari konstitusi akan ada pemahaman nilai spiritualitas dari konstitusi yang sudah pasti berlandaskan dari nilai-nilai keagamaan yang bersumber dari kitab suci. Jadi hal tersebut merupakan pemikiran yang sempit dan tidak pantas di ucapkan oleh calon pemimpin," kata Arif dalam keterangannya, Selasa (3/7/2012).
Arif mengingatkan, pasangan yang akan menjadi pemimpin di kota besar seperti Jakarta seharusnya tidak usah mewacanakan hal tersebut ke publik. Lantaran karena semua tahu bahwa hal tesebut merupakan ranah kenegaraan dan ranah pribadi orang per orangan. Wacana kesukuan yang juga dilontarkan akan menimbulkan perpecahan bagi mayarakat Jakarta. Seharusnya, skata Arif, sebagai calon pemimpin dapat memberikan semangat kebersamaan yang sudah terbangun denga n baik di Ibu kota negara. "Warga jakarta butuh pemimpin yang bisa merangkul semua golongan masyarakat tanpa melihat latar belakang suku,agama dan ras. Bukan pemimpin yang malah memprovokasi dan menyekat nyekat rasa kebersamaan masyarakat Jakarta," tegasnya.
Arif menambahkan, Jakarta merupakan pusat negara dan pusat pemerintahan yang harus dipimpin oleh pemimpin yang berpengalaman dan memahami kondisi kota Jakarta. "Pemimpin yang punya hubungan luas dengan segala lapisan masyarakat," tandasnya.
http://jakarta.okezone.com/read/2012...semua-golongan
--------------
Yaaaa ... dicoba dulu selama 5 tahun. Kalau baik, jangan dipilih lagi.
Gitu aja repot!
:beer:
Selasa, 31 Juli 2012 19:39 wib wib
JAKARTA - Isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) masih semarak menjelang putaran kedua Pilgub DKI 2012. Banyak pihak yang menyayangkan hal ini. Pasalnya, ada etnis tertentu yang diserang. Politisi senior Permadi mengatakan, etnis mana pun bisa saja memimpin Jakarta. Dia juga mengatakan masih ada kesempatan kepada dua pasangan calon yang nanti akan bertarung di putaran ke dua, yaitu Foke-Nara dan Jokowi-Ahok.
"Bukan masalah etnisnya, tapi siapa yang bisa benahi Jakarta. Siapa pun yang jadi gubernur bila tak ada ketegasan akan rusak Jakarta ini. Foke jelas tidak mungkin, karena 5 tahun yang lalu saja dia tak mungkin. Jokowi-Ahok juga masih belum tentu karena mereka dari kota kecil dan menjadi pertanyaan apa bisa membangun kota besar seperti Jakarta," katanya dalam diskusi bertema Mempertahankan Komitmen Keturunan China di Jakarta, Selasa (31/7/2012).
Isu SARA ini muncul, kata dia, karena sengaja disebar oleh pihak yang tidak terima atas hasil pada putaran pertama. Isu SARA inilah yang digunakan untuk kepentingan pribadi sang penggelontor isu. "Saya khawatir kejadian waktu zaman VOC terjadi lagi," tegasnya. Karena itu, lanjutnya, seluruh komponen harus menjaga dan menenangkan serta harus berhati-hati agar tidak terjadi hal yang demikian. "Kita beri penjelasan bahwa memang ada yang menang dan kalah. Itu jelas," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Chairman Global Nexus Institute, Christianto Wibisono, mengatakan bila isu ini tetap merebak tentu akan berdampak besar untuk integritas Jakarta. "Karena itu, mari kita berdoa agar hati nurani agar pimpinan kita tak melakukan itu," kata dia.
http://jakarta.okezone.com/read/2012...-pintar-pintar
"Jakarta Butuh Pemimpin yang Bisa Rangkul Semua Golongan"
Selasa, 3 Juli 2012 23:03 wib wib
JAKARTA- Kampanye pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) DKI Jakarta telah berlangsung sejak 25 Juni 2012 silam. Enam pasangan calon Gubernur dan calon wakil Gubernur DKI Jakarta berlomba-lomba 'menjual' visi dan misi ke masyarakat. Namun, tak jarang dalam kampanye tersebut para calon kerap menyeret hal-hal yang bersifat sensitif, termasuk persoalan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA).
Menurut mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DKI Jakarta, Arif Rahman ada salah satu calon gubernur DKI Jakarta yang mengatakan bahwa Negara harus lebih patuh pada ayat konstitusi daripada ayat suci. Hal itu, menurut sangat kurang layak. "Kalau mereka memahami esensi dari konstitusi akan ada pemahaman nilai spiritualitas dari konstitusi yang sudah pasti berlandaskan dari nilai-nilai keagamaan yang bersumber dari kitab suci. Jadi hal tersebut merupakan pemikiran yang sempit dan tidak pantas di ucapkan oleh calon pemimpin," kata Arif dalam keterangannya, Selasa (3/7/2012).
Arif mengingatkan, pasangan yang akan menjadi pemimpin di kota besar seperti Jakarta seharusnya tidak usah mewacanakan hal tersebut ke publik. Lantaran karena semua tahu bahwa hal tesebut merupakan ranah kenegaraan dan ranah pribadi orang per orangan. Wacana kesukuan yang juga dilontarkan akan menimbulkan perpecahan bagi mayarakat Jakarta. Seharusnya, skata Arif, sebagai calon pemimpin dapat memberikan semangat kebersamaan yang sudah terbangun denga n baik di Ibu kota negara. "Warga jakarta butuh pemimpin yang bisa merangkul semua golongan masyarakat tanpa melihat latar belakang suku,agama dan ras. Bukan pemimpin yang malah memprovokasi dan menyekat nyekat rasa kebersamaan masyarakat Jakarta," tegasnya.
Arif menambahkan, Jakarta merupakan pusat negara dan pusat pemerintahan yang harus dipimpin oleh pemimpin yang berpengalaman dan memahami kondisi kota Jakarta. "Pemimpin yang punya hubungan luas dengan segala lapisan masyarakat," tandasnya.
http://jakarta.okezone.com/read/2012...semua-golongan
--------------
Yaaaa ... dicoba dulu selama 5 tahun. Kalau baik, jangan dipilih lagi.
Gitu aja repot!
:beer: