[ X ] Close

Kamis, 02 Agustus 2012

Bukan Hanya Krisis Kedelei, Capres buat Hajatan 2014 pun, Indonesia Alami Krisis pula

Indonesia Alami Krisis Capres
Rabu, 01 Agustus 2012 20:59 WIB

JAKARTA--MICOM: Krisis capres 2014 diakui memang menjadi pekerjaan rumah besar bagi partai politik karena tidak mampu memproduksi pemimpin-pemimpin baru. Sementara itu, pada saat yang sama, figur-figur alternatif yang lahir dari rahim reformasi pun tidak banyak menunjukkan kiprahnya. "Tentu saja adanya muka-muka lama capres kita ini, selain karena oligarki parpol begitu kuat, juga karena kegagalan parpol itu sendiri memproduksi pemimpin baru," ujar peneliti politik dari CSIS Sunny Tanuwidjaja, saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (1/8).

Ia menambahkan krisis pemimpin yang terjadi saat ini tak hanya menjadi kegagalan Parpol, tetapi juga kegagalan tokoh-tokoh dan aktivis reformasi yang tidak banyak muncul sebagai figur pembawa perubahan dan semangat reformasi itu sendiri. "Kan lihat saja sendiri sekarang. Yang dulu aktivis kencang bicara antikorupsi sekarang sama saja. Tidak ada bedanya. Semangat reformasi yang mereka gelorakan tidak muncul saat ini," tukas Sunny.

Karena itu, kata dia, adalah satu-satunya cara kerja politik paling efektif saat ini adalah melalui kepemimpinan lokal dalam skala yang lebih kecil. "Misalnya saja saat menjadi Bupati atau DPRD benar-benar menunjukkan integritas dan kapasitas yang baik dan berbeda dengan kebanyakan politisi. Itu kesempatan untuk masuk ke jenjang lebih tinggi. Sosok seperti Joko Widodo misalnya harus lebih banyak lagi di negeri ini," tutup Sunny
http://www.mediaindonesia.com/read/2..._Krisis_Capres


PKS Dorong Generasi Reformasi Rebut Peluang di Pilpres 2014
Rabu, 01 Agustus 2012 15:09 WIB

PKS Dorong Generasi Reformasi Rebut Peluang di Pilpres 2014
JAKARTA--MICOM: Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendorong generasi reformasi 1998 untuk merebut kesempatan untuk maju dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014.

"Coba lah mereka yang muncul. Dulu kan berkoar-koar semangat menggelorakan reformasi dan sekarang kesempatan bagi mereka untuk merebut kepemimpinan nasional. Saya rasa kita sepakat, masyarakat sudah bosan sama yang tua-tua," tandas anggota Komisi IV DPR dari F-PKS Hermanto di Jakarta, Rabu (1/8).

Sebab, sambung dia, dominasi muka lama dalam daftar calon presiden (capres) adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi. "Mereka bisa dicap mengkhianati reformasi yang salah satu butirnya adalah reformasi kepemimpinan nasional," tandas dia.

Menurut dia, para tokoh senior yang masih berkeinginan maju peruntungan dalam Pilpres 2014 memberi kesempatan pada generasi muda. "Saya heran juga, kok malah generasi pejuang reformasi itu tidak muncul ke permukaan. Seharusnya saat ini adalah era para tokoh reformasi itu, bukan lagi senior orde lama," ujar Ketua Departemen Perencanaan Dakwah DPP PKS itu
http://www.mediaindonesia.com/read/2...i_Pilpres_2014


Indonesia Butuh Capres Baru, tapi bukan Figur Lama
Kamis, 02 Agustus 2012 20:56 WIB

JAKARTA--MICOM: Pemilihan Umum menyisakan waktu kurang dari dua tahun lagi, tetapi nama-nama yang muncul masih berkutat pada figur lama yang itu-itu saja. Menurut Ketua MPR RI Taufik Kiemas, saat ini harus ada figur calon presiden (capres) yang baru untuk bersaing di 2014 mendatang. "Capres yang layak? Capres harus ada yang baru. Yang biasa-biasa saja bisa jadi presiden (Megawati dan Gus Dur), sekarang kan banyak yang pintar, masak tidak ada yang bisa?" kata Taufik, usai agenda buka puasa bersama para pemimpin dan pejabat negara di kediamannya, di kompleks perumahan pejabat negara Widya Chandra, Jakarta, Kamis (2/8) malam.

Salah satu jalan yang paling terbuka, lanjut suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, itu adalah dengan membuka keran bagi tokoh di luar parpol yang diusung parpol. Selain itu, yang terpenting adalah sikap tanggung jawab yang kuat sebagai pemimpin, apa pun latar belakang pendidikannya. "Parpol harus buka keran untuk tokoh diluar parpol, dan yang penting harus bertanggung jawab, mau dia akademisi, politisi atau apapun," jelasnya.

Taufik pun tidak setuju dengan konsep yang terjadi dalam dunia perpolitikan Indonesia saat ini. Ketua umum sebuah partai hampir bisa dipastikan akan menjadi capres dari partai yang bersangkutan. "Ketua Umum ibarat pegang tiket (capres), saya jelas tidak setuju, bagaimana itu nanti kalau sudah ada yang pegang tiket, tidak ada kompetisi (mencari yang terbaik)," papar Taufik.

Meskipun kondisi Indonesia saat ini miskin capres baru untuk melaju dan bertarung di 2014 mendatang, Taufik tetap yakin pada saatnya akan ada sosok pemimpin yang muncul. "Indonesia ini negeri ajaib, pada saatnya tiap zaman akan menghasilkan pemimpin," tutupnya.
http://www.mediaindonesia.com/read/2...kan-Figur-Lama

---------------------

Meskipun angka harapan hidup (expectation of life) orang Indonesia semakin membaik, yaitu kini sudah mencapai angka sekitar 70 tahun, tentu syarat usia untuk menjabat Presiden itu sebaiknya dipikirkan kembali. Kalau orang-orang diatas yang saat ini (2012) rata-rata berusia berkepala 6 seperti Megawati yang berusia 69 tahun, Ical yang berusia 65 tahun, JK yang sudah 70 tahun, Wiranto yang berusia 65 tahun, Budiono yang berusia 69 tahun, Prabowo Subianto yang kini 61 tahun, dan Akbar Tanjung yang sudah 67 tahun dan Hatta Radjasa yang berusia 59 tahun, sebaiknya tidak lagi ngotot untuk maju menjadi Presiden atau Wapres.

Nama-nama diatas, saat Pilpres 2014 nanti, sudah pada uzur semuanya: Megawati (71 tahun), Ical (67 tahun), JK (72 tahun), Wiranto (67 tahun), Budiono (71 tahun), Prabowo yang usia 63 tahun, dan Akbar Tanjung yang akan berusia 69 tahun, dan Hatta Radjasa yang berusia 61 tahun. Semuanya sudah bau tanah! Kalau mereka terpilih sebagai Presiden sah NKRI, berarti masa dinasnya selama 5 tahun ke depan, itu artinya, siapapun yang terpilih, saat itu usianya betul-betul sudah uzur sekali: Megawati menjadi 76 tahun diakhir masa jabatan 2019, Ical menjadi 72 tahun, JK mencapai 77 tahun, Wiranto menjadi 72 tahun, Budiono menjadi 76 tahun dan Prabowo sekalipun sudah mencapai usia 68 tahun, Akbar Tanjung menjadi 72 tahun dan Hatta Radjasa menjadi 64 tahun. Usia segitu, fair sajalah! sangat rawan untuk memimpin negara ini, yang sangat besar itu!

Orang Indonesia itu, usia kepala 5 saja sudah banyak yang 'sudden death' pada saat ini, atau terkena penyakit generatif seperti jantung, stroke, diabetes, gagal ginjal dan sejenisnya. Disayangkan kalau seorang Presiden yang terpilih oleh sebab dia telah uzur, kerjanya hanya berobat dan berobat serta sakit saja selama menjadi presiden. Dikhawatirkan kalau kondisi Presiden seperti itu, perebutan kekuasaan akan semakin menggila dan bisa mengancam keutuhan NKRI secara keseluruhannya. Mungkin kita masih ingat almarhum Presiden Gus Dur dulu, yang usianya baru kepala 6, tapi sakitnya sudah kompilaksi macam-macamm. Akhirnya selama menjabat 2 tahun sebagai Presiden RI pada waktu itu, waktunya banyak habis untuk berobat saja, ke luar negeri lagi!