Air Asia Akuisisi Batavia Air 80 Juta Dollar AS
Kamis, 26 Juli 2012 16:39 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - AirAsia Berhad dan PT Persindo Nusa Perkasa telah mengakusisi Batavia Air dengan nilai sebesar US$ 80 juta. CEO grup AirAsia Tony Fernandees mengatakan tujuan dilakukan akuisisi Batavia Air, agar AirAsia Berhad bisa meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan Asia. "Kita bisa bersinergi AirAsia grup dengan tambahan penerbangan domestik dari Batavia Air,"ujar Tony Fernandees di acara AirAsia Berhard dan PT Fersindo Nusaperkasa Akusisi. Batavia Air, di Ritz Carlton, Kamis (26/7/2012).
Presiden Direktur AirAsia Indonesia Dharmadi mengatakan, pertumbuhan jumlah penumpang angkutan udara di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 15 persen. Dengan akuisisi tersebut diharapkan berdampak positif bagi industri penerbangan Indonesia. "Hari ini kami akan menjadi bagian sejarah dalam industri penerbangan di Asia, Indonesia. Nilai akuisisi ini mencapai US$ 80 juta," kata Dharmadi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (26/7/2012).
Ia menjelaskan berdasarkan peraturan perusahaan nasional harus memiliki saham mayoritas sebesar 51 persen sedangkan sisanya, 49 persen oleh pihak asing. Untuk memenuhi persyaratan tersebut PT Persindo Nusa Perkasa dengan porsi kepemilikan saham sebesar 51 persen, dan AirAsia Berhad 49 persen. "Akuisisi dilakukan dengan dua tahapan, tahap pertama mengakuisisi saham mayoritas sebesar 76,95 persen dilanjutkan dengan akuisisi sisa saham sebesar 23,05 persen. Akusisi diharapkan selesai pada kuartal II 2013," ujarnya. Ia menambahkan pembelian saham Batavia Air secara otomoatis akan menambah jumlah armada AirAsia Indonesia. Kemudian semakin memperluas jaringan rute AirAsia Indonesia di domestik sebagai feeder hub maskapai di Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, dan Surabaya.
http://www.tribunnews.com/2012/07/26...juta-dollar-as
Air Asia Umumkan Akuisisi Batavia Air Siang Ini
Kamis, 26 Juli 2012 | 09:42 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai berbujet rendah, PT Indonesia AirAsia, akan mengumumkan akusisi terhadap Batavia Air siang nanti. "Konferensi pers AirAsia Akuisisi Batavia Air pukul 14.30 WIB," kata Manager Corporate Communication Indonesia AirAsia, Audrey Progastama Petriny, Kamis, 26 Juli 2012. Sayangnya ia belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai akuisisi tersebut.
Audrey menuturkan, pengumuman resmi mengenai akuisisi maskapai yang merupakan anak usaha AirAsia Malaysia atas Batavia Air akan disampaikan oleh Presiden Direktur Indonesia AirAsia, Dharmadi. Namun ternyata AirAsia tidak hanya akan mengakuisisi Batavia Air. Maskapai tersebut pun berencana menjalin kerja sama dengan PT Fersindo Nusaperkasa.
Rencana kerja sama antara AirAsia dengan perusahaan lokal yang bergerak di bidang perdagangan itu pun akan diumumkan secara resmi siang nanti. "Pengumuman rencana kerja sama tiga perusahaan tersebut (AirAsia, Fersindo Nusaperkasa, dan Batavia Air) diadakan pada pukul 14.00-15.30," kata Audrey. Di lain pihak, juru bicara Sriwijaya Air, Agus Sujono, menyatakan baru mengetahui informasi mengenai akuisisi tersebut pagi ini. Ia mengatakan baru saja membaca informasi itu melalui berita online. Menurut Agus, akuisisi tersebut merupakan realita bisnis. Yang pasti, menurut dia, akuisisi yang dilakukan AirAsia akan meramaikan bisnis low cost carrier di Indonesia. "Kita lihat saja nanti, pasti bakal jadi ramai," katanya sambil tertawa.
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...-Air-Siang-Ini
Akuisisi Batavia Air, SBY Harap Kerja Sama Menguntungkan
Kamis, 2 Agustus 2012 | 18:23 WIB
BANTEN, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap, proses akuisisi Batavia Air oleh AirAsia Indonesia senilai 80 juta dollar AS sesuai dengan undang-undang. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka kesempatan kerja sama menguntungkan lainnya antara Indonesia dan Malaysia, baik antarpemerintah maupun sektor swasta. "Dengan Malaysia, saya ingin kerja sama yang saling menguntungkan," kata Kepala Negara seusai memimpin rapat koordinasi di Gedung PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (2/8/2012).
Presiden mengatakan, pemerintah tak ragu untuk melakukan intervensi manakala ada hambatan kerja sama antara dunia usaha Indonesia dengan negara lain. Presiden mencontohkan ketika Bank Mandiri memiliki hambatan untuk membuka cabang di Shanghai, China. Menurutnya, ketika bertemu dengan PM China Wen Jia Bao di China, Presiden mengatakan soal hambatan tersebut. Singkatnya, Bank Mandiri akhirnya dapat membuka kantor di China. "Kalau pemerintah menganggap ini sudah tidak benar, maka mesti diluruskan. Apalagi bertentangan," kata Presiden.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa pihaknya belum menerima surat resmi terkait dengan proses akuisisi maskapai penerbangan Batavia Air yang dilakukan oleh maskapai penerbangan AirAsia. "Belum ada surat resmi ke Kementerian Perhubungan tentang hal (akuisisi) itu," kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti di Jakarta, Jumat (27/7/2012).
Dengan demikian, menurut dia, maka juga belum ada kepastian apakah pihak Kementerian Perhubungan akan menyetujui atau malah menolak perjanjian akuisisi tersebut. Ia memaparkan salah satu hal yang akan dilihat adalah apakah kesepakatan akuisisi tersebut selaras dengan aturan perundang-undangan yang berlaku seperti ketentuan mengenai pemilik saham mayoritas.
Tidak hanya dari Kemenhub, persoalan juga muncul dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang minta PT Indonesia AirAsia dan PT Fersindo Nusa Perkasa agar melaporkan rencana akuisisinya terhadap PT Metro Batavia Grup, pemilik maskapai Batavia Air. "Perusahaan tidak boleh tidak melakukan notifikasi dengan alasan akumulasi omzetnya di bawah Rp 5 triliun atau asetnya tidak melebihi Rp 2,5 triliun, karena KPPU-lah yang berwenang menentukan dan menilai," kata Ketua KPPU Tadjuddin Noer Said di Jakarta, Senin (30/7/2012).
Menurut Tadjuddin, rencana akuisisi tersebut wajib dilaporkan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan dan Peleburan Badan Usaha. AirAsia Indonesia selaku perusahaan yang mengakuisisi harus melakukan notifikasi (pemberitahuan) tentang akuisisi yang dijalankan dalam 30 hari kerja sejak akuisisi terjadi secara efektif.
Terdapat tiga hal yang membuat AirAsia dan Fersindo harus melaporkan rencana akuisisi tersebut, yaitu akumulasi merger aset AirAsia lebih dari Rp 2,5 triliun dan atau akumulasi omzet lebih dari Rp 5 triliun, kemudian perusahaan yang melakukan merger tidak terafiliasi satu sama lain atau bukan dari satu perusahaan induk, dan terakhir akuisisi ini melibatkan perusahaan asing dan salah satunya punya produk yang beredar di Indonesia.
http://nasional.kompas.com/read/2012....Menguntungkan
------------------
Hanya US$ 80 juta saja, uang segitu sih cuman cincai bagi kebanyakan pengusaha Indonesia spt Chaerul Tanjung atau Ical atau Harry Tanoe, apalagi Pemerintah yang lagi kaya-kayanya duit sehingga ngutangi IMF US$1 milyar saja entengan sekali. Daripada perusahaan batavia Air itu kelak dipakai Air Asia untuk menghancurkan industri penerbangan dalam negeri yang sedang tumbuh itu, dengan strategi "low fare" yang sering kagak masuk akal itu, kenapa Pemerintah tak berfikir praktis dan ekonomis, bahwa demi menghindari kerugian sangat besar bagi kepentingan nasional di industri penerbangan nasional di masa depan, rela melakukan 'bail out' kepada perusahaan seperti batavia Air itu? Asal tahu saja, ancaman Air Asia yang akan merebut 14 juta penumpang pasca penggabungannya dengan Batavia Air, yang memang diniatkan untuk merebut pangsa pasar penumpang udara nasional hingga 20% itu, bukanlah ancaman main-main untuk dunia penerbangan nasioanl. Di Malaysia, asal Air Asia itu, gara-gara praktek "low fare" yang tak sehat di negara itu, telah berhasil membangkrutkan maskapai nasional Malaysia yaitu 'Malaysia Air System'. Apa kita rela pula bila 2-3 tahun kedepan, Lion Air, Srwijaya Air, Citilink dan bahkan Garuda, juga akan kelelep? Lalu karena kesulitan keuangan, akhirnya dibeli pula oleh Air Asia atau Singapore Airlines?
Kamis, 26 Juli 2012 16:39 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - AirAsia Berhad dan PT Persindo Nusa Perkasa telah mengakusisi Batavia Air dengan nilai sebesar US$ 80 juta. CEO grup AirAsia Tony Fernandees mengatakan tujuan dilakukan akuisisi Batavia Air, agar AirAsia Berhad bisa meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan Asia. "Kita bisa bersinergi AirAsia grup dengan tambahan penerbangan domestik dari Batavia Air,"ujar Tony Fernandees di acara AirAsia Berhard dan PT Fersindo Nusaperkasa Akusisi. Batavia Air, di Ritz Carlton, Kamis (26/7/2012).
Presiden Direktur AirAsia Indonesia Dharmadi mengatakan, pertumbuhan jumlah penumpang angkutan udara di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 15 persen. Dengan akuisisi tersebut diharapkan berdampak positif bagi industri penerbangan Indonesia. "Hari ini kami akan menjadi bagian sejarah dalam industri penerbangan di Asia, Indonesia. Nilai akuisisi ini mencapai US$ 80 juta," kata Dharmadi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (26/7/2012).
Ia menjelaskan berdasarkan peraturan perusahaan nasional harus memiliki saham mayoritas sebesar 51 persen sedangkan sisanya, 49 persen oleh pihak asing. Untuk memenuhi persyaratan tersebut PT Persindo Nusa Perkasa dengan porsi kepemilikan saham sebesar 51 persen, dan AirAsia Berhad 49 persen. "Akuisisi dilakukan dengan dua tahapan, tahap pertama mengakuisisi saham mayoritas sebesar 76,95 persen dilanjutkan dengan akuisisi sisa saham sebesar 23,05 persen. Akusisi diharapkan selesai pada kuartal II 2013," ujarnya. Ia menambahkan pembelian saham Batavia Air secara otomoatis akan menambah jumlah armada AirAsia Indonesia. Kemudian semakin memperluas jaringan rute AirAsia Indonesia di domestik sebagai feeder hub maskapai di Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, dan Surabaya.
http://www.tribunnews.com/2012/07/26...juta-dollar-as
Air Asia Umumkan Akuisisi Batavia Air Siang Ini
Kamis, 26 Juli 2012 | 09:42 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai berbujet rendah, PT Indonesia AirAsia, akan mengumumkan akusisi terhadap Batavia Air siang nanti. "Konferensi pers AirAsia Akuisisi Batavia Air pukul 14.30 WIB," kata Manager Corporate Communication Indonesia AirAsia, Audrey Progastama Petriny, Kamis, 26 Juli 2012. Sayangnya ia belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai akuisisi tersebut.
Audrey menuturkan, pengumuman resmi mengenai akuisisi maskapai yang merupakan anak usaha AirAsia Malaysia atas Batavia Air akan disampaikan oleh Presiden Direktur Indonesia AirAsia, Dharmadi. Namun ternyata AirAsia tidak hanya akan mengakuisisi Batavia Air. Maskapai tersebut pun berencana menjalin kerja sama dengan PT Fersindo Nusaperkasa.
Rencana kerja sama antara AirAsia dengan perusahaan lokal yang bergerak di bidang perdagangan itu pun akan diumumkan secara resmi siang nanti. "Pengumuman rencana kerja sama tiga perusahaan tersebut (AirAsia, Fersindo Nusaperkasa, dan Batavia Air) diadakan pada pukul 14.00-15.30," kata Audrey. Di lain pihak, juru bicara Sriwijaya Air, Agus Sujono, menyatakan baru mengetahui informasi mengenai akuisisi tersebut pagi ini. Ia mengatakan baru saja membaca informasi itu melalui berita online. Menurut Agus, akuisisi tersebut merupakan realita bisnis. Yang pasti, menurut dia, akuisisi yang dilakukan AirAsia akan meramaikan bisnis low cost carrier di Indonesia. "Kita lihat saja nanti, pasti bakal jadi ramai," katanya sambil tertawa.
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...-Air-Siang-Ini
Akuisisi Batavia Air, SBY Harap Kerja Sama Menguntungkan
Kamis, 2 Agustus 2012 | 18:23 WIB
BANTEN, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap, proses akuisisi Batavia Air oleh AirAsia Indonesia senilai 80 juta dollar AS sesuai dengan undang-undang. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka kesempatan kerja sama menguntungkan lainnya antara Indonesia dan Malaysia, baik antarpemerintah maupun sektor swasta. "Dengan Malaysia, saya ingin kerja sama yang saling menguntungkan," kata Kepala Negara seusai memimpin rapat koordinasi di Gedung PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (2/8/2012).
Presiden mengatakan, pemerintah tak ragu untuk melakukan intervensi manakala ada hambatan kerja sama antara dunia usaha Indonesia dengan negara lain. Presiden mencontohkan ketika Bank Mandiri memiliki hambatan untuk membuka cabang di Shanghai, China. Menurutnya, ketika bertemu dengan PM China Wen Jia Bao di China, Presiden mengatakan soal hambatan tersebut. Singkatnya, Bank Mandiri akhirnya dapat membuka kantor di China. "Kalau pemerintah menganggap ini sudah tidak benar, maka mesti diluruskan. Apalagi bertentangan," kata Presiden.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa pihaknya belum menerima surat resmi terkait dengan proses akuisisi maskapai penerbangan Batavia Air yang dilakukan oleh maskapai penerbangan AirAsia. "Belum ada surat resmi ke Kementerian Perhubungan tentang hal (akuisisi) itu," kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti di Jakarta, Jumat (27/7/2012).
Dengan demikian, menurut dia, maka juga belum ada kepastian apakah pihak Kementerian Perhubungan akan menyetujui atau malah menolak perjanjian akuisisi tersebut. Ia memaparkan salah satu hal yang akan dilihat adalah apakah kesepakatan akuisisi tersebut selaras dengan aturan perundang-undangan yang berlaku seperti ketentuan mengenai pemilik saham mayoritas.
Tidak hanya dari Kemenhub, persoalan juga muncul dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang minta PT Indonesia AirAsia dan PT Fersindo Nusa Perkasa agar melaporkan rencana akuisisinya terhadap PT Metro Batavia Grup, pemilik maskapai Batavia Air. "Perusahaan tidak boleh tidak melakukan notifikasi dengan alasan akumulasi omzetnya di bawah Rp 5 triliun atau asetnya tidak melebihi Rp 2,5 triliun, karena KPPU-lah yang berwenang menentukan dan menilai," kata Ketua KPPU Tadjuddin Noer Said di Jakarta, Senin (30/7/2012).
Menurut Tadjuddin, rencana akuisisi tersebut wajib dilaporkan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan dan Peleburan Badan Usaha. AirAsia Indonesia selaku perusahaan yang mengakuisisi harus melakukan notifikasi (pemberitahuan) tentang akuisisi yang dijalankan dalam 30 hari kerja sejak akuisisi terjadi secara efektif.
Terdapat tiga hal yang membuat AirAsia dan Fersindo harus melaporkan rencana akuisisi tersebut, yaitu akumulasi merger aset AirAsia lebih dari Rp 2,5 triliun dan atau akumulasi omzet lebih dari Rp 5 triliun, kemudian perusahaan yang melakukan merger tidak terafiliasi satu sama lain atau bukan dari satu perusahaan induk, dan terakhir akuisisi ini melibatkan perusahaan asing dan salah satunya punya produk yang beredar di Indonesia.
http://nasional.kompas.com/read/2012....Menguntungkan
------------------
Hanya US$ 80 juta saja, uang segitu sih cuman cincai bagi kebanyakan pengusaha Indonesia spt Chaerul Tanjung atau Ical atau Harry Tanoe, apalagi Pemerintah yang lagi kaya-kayanya duit sehingga ngutangi IMF US$1 milyar saja entengan sekali. Daripada perusahaan batavia Air itu kelak dipakai Air Asia untuk menghancurkan industri penerbangan dalam negeri yang sedang tumbuh itu, dengan strategi "low fare" yang sering kagak masuk akal itu, kenapa Pemerintah tak berfikir praktis dan ekonomis, bahwa demi menghindari kerugian sangat besar bagi kepentingan nasional di industri penerbangan nasional di masa depan, rela melakukan 'bail out' kepada perusahaan seperti batavia Air itu? Asal tahu saja, ancaman Air Asia yang akan merebut 14 juta penumpang pasca penggabungannya dengan Batavia Air, yang memang diniatkan untuk merebut pangsa pasar penumpang udara nasional hingga 20% itu, bukanlah ancaman main-main untuk dunia penerbangan nasioanl. Di Malaysia, asal Air Asia itu, gara-gara praktek "low fare" yang tak sehat di negara itu, telah berhasil membangkrutkan maskapai nasional Malaysia yaitu 'Malaysia Air System'. Apa kita rela pula bila 2-3 tahun kedepan, Lion Air, Srwijaya Air, Citilink dan bahkan Garuda, juga akan kelelep? Lalu karena kesulitan keuangan, akhirnya dibeli pula oleh Air Asia atau Singapore Airlines?