Aparat Indonesia tak Perlu Repot-repot Tangkapi Imigran Gelap Yang ke Australia
Minggu, 22/07/2012 - 21:05
JAKARTA,(PRLM).- Kepolisian ataupun aparat keamanan Indonesia tidak perlu repot-repot menangkap dan menahan para imigran dari negara-negara Asia Tengah. Sebab, mereka melintas di dekat perairan Indonesia, tujuannya bukanlah ke Indonesia tapi ke Australia. Demikian dikemukakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada "PRLM", di Jakarta, Minggu (22/7) saat mengomentari adanya puluhan imigran yang diamankan Polres Sukabumi di Pesisir Pantai Sukabumi beberapa waktu lalu.
Menurut Neta, Polri cukup mengawasi dari jauh perjalanan mereka yang akan menuju Christmas Island, Australia. "Kalaupun mereka kehabisan air dan masuk ke wilayah Indonesia, aparat Polri cukup memberikan bantuan air dan kemudian menarik perahu-perahu imigran Asia Tengah itu kembali ke perairan internasional untuk melanjutkkan perjalanannya ke negara yang mereka tuju," ujarnya.
Dia menuding, proses penangkapan dan pengamanan para imigran gelap yang akan ke Australia itu tak lain karena ada program bantuan Australia ke Polri. Dimana, setiap tahun ada 7 anggota Polri yang dididik di Australia. "Polisi-polisi yang dididik di Australia inilah yang kerap 'diperalat' atau diminta bantuannya oleh pemerintah Australia untuk mencegah para imigran dari Asia Tengah itu masuk ke Australia. Dengan cara, ditangkapi saat melintas di dekat perairan Indonesia," ucapnya.
Akan tetapi, kata dia, ironisnya setelah ditangkap, para imigran itu malah menjadi beban Polri. "Di sinilah terjadi kesalahan strategi Polri, seharusnya Polri jangan mau diperalat Australia dan program bantuan Australia ke Polri harus dihentikan," ujarnya. Selain itu, kata dia, Polri jangan mau repot-repot menangkapi para imigran Asia Tengah tersebut. "Toh mereka melintas di perairan internasional, jadi biarkan saja mereka menuju negara yg mereka tuju, yakni Australia," ujarnya.
Ia mengungkapkan, para imigran itu menjadi beban karena polisi harus memberi mereka makan selama ditahan polisi, sementara polisi tidak punya nggaran untuk itu. Terlebih lagi proses untuk sampai kembali dipulangkan ke negaranya memerlukan waktu yang cukup lama dan harus melibatkan berbagai instansi terkait."Dari tahanan Polri setelah diproses para imigran itu diserahkan ke imigrasi, untuk kemudian dipulangkan ke negara asalnya, setelah diurus perwakilan negaranya di sini," katanya.
http://www.pikiran-rakyat.com/node/196911
Australia Tujuan Akhir Imigran Gelap
Jumat, 21 May 2010
Denpasar - Enam imigran gelap yang tertangkap memasuki wilayah perairan Bali Utara, terungkap memiliki tujuan akhir Australia. "Mereka mengaku akan pergi ke Australia dengan memanfaatkan Bali sebagai daerah transit," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar, di Denpasar, Jumat (21/5). Senada dengan Kabid Humas, Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan (Wasdakim) Imigrasi Ngurah Rai Denpasar Wayan Sudana menyebutkan, dari hasil pemeriksaan, keenam imigran gelap yang kini menjadi tahanan pihaknya, diketahui memiliki tujuan akhir negeri kanguru.
Dikatakan, keenamnya mengaku berangkat dari Malaysia dengan menggunakan speedboat, namun begitu memasuki perairan Bali Utara pada Rabu (19/5) lalu, mereka tertangkap petugas patroli polisi yang memergokinya. Mereka adalah Feda Hussain (23), Abdul Azim (18), Asadullah Hazim (35) dan Rohullah (20) yang kesemuanya asal Afganistan, serta Ali Ghulam (30) dan Saad Zadeh Hassan (38) yang masing-masing warga asal Pakistan dan Iran. Pemeriksaan terhadap keenam imigran tersebut kini masih dilakukan pihak kantor Imigrasi Ngurah Rai Denpasar.
Khusus untuk imigram asal Iran dan Paksitan, menyusul diketahui petugas sebagai orang yang berusaha mencari suaka politik di negeri lain. Ini dibuktikan dengan kepemilikan surat "asylum seekers". Sudana mengakui kalau imigran asal Iran dan Pakistan sempat menunjukkan surat "asylum seekers" sebagai pemohon suaka politik. Sementara empat lainnya yang asal Afganistan, sejaun ini petugas belum menemukan bukti tertulis dari mereka.
Mengenai adanya pengakuan bahwa mereka masuk Bali bersama 15 kawannya, Sudana menyebutkan bahwa pihaknya bersama-sama petugas kepolisian terus melakukan upaya penyelidikan dan pemantauan. "Kami tetap lakukan pemantauan, namun sampai saat ini belum ada informasi dan petunjuk mengenai keberadaan mereka di Bali," ucapnya. Untuk pengusutan lebih lanjut, keenam imigran gelap yang datang dengan speedboat tersebut kini meringkuk di Rumah Tahanan Detensi Imigrasi (Rudensi) Ngurah Rai di Jimbaran, Kabupaten Badung
http://erabaru.net/nasional/50-polit...-imigran-gelap
Australia Bantu Bangun Gedung Penampung Imigran Dibangun di Lampung
Lampung dianggap strategis untuk penyelundupan manusia.
Selasa, 10 Juli 2012, 22:54
VIVAnews - Lampung kini memiliki tempat penampungan sementara para imigran ilegal yang tertangkap di wilayah hukum Lampung. Gedung berukuran 12 X 13 meter berlantai tiga ini diresmikan langsung oleh Manager Australian Federal Police (AFC) untuk Indonesia, Commander Chris Sheehan di Lampung, Selasa 10 Juli 2012. Chris juga didampingi Kabareskrim Mabes Polri Komjen Sutarman dan Kapolda Lampung Brigjen Jodie Rooseto.
Gedung yang dinamakan Gedung People Smuggling ini dibangun untuk memperlancar proses penanganan kasus imigran ilegal di Lampung. Gedung ini dibangun menggunakan dana hibah dari Kepolisian Federal Australia. Perencanaan gedung ini sudah direncanakan sejak tahun 2010 lalu, dan Lampung memang cocok untuk wilayah pembangunan gedung ini. "Lampung adalah daerah yang strategis untuk daerah perlintasan penyeludupan manusia," ujar Chris kepada wartawan.
Sementara itu, Sutarman mengatakan Mabes Polri berupaya menekan kasus penyelundupan manusia. "Kami telah melakukan upaya dengan sosialisasi ke kedutaan-kadutaan besar Indonesia yang ada di luar negeri," tuturnya. "Upaya ini sekaligus kampanye pencegahan penyelundupan manusia. Polri akan memantau negara-negara yang memberangkatkan imigran gelap melalui polisi Indonesia yang ada di kedutaan-kedutaan di negara luar. Langkah ini diharapkan mampu mencegah penyelundupan manusia," ucap Sutarman.
Pembangunan gedung ini merupakan gedung penampungan imigran ilegal yang kedua. Gedung serupa juga telah dibangun di Provinsi Banten. Menurut rencana, nantinya juga akan dibangun sembilan gedung yang sama di beberapa wilayah Indonesia. "Pembangun ini juga sekaligus sebagai bukti Polda Lampung serius menangani imigran gelap yang masuk dan tertangkap di Lampung," ucap Jodie. Selama ini, para imigran ilegal yang tertangkap di Lampung, ditampung di hotel-hotel dan kantor imigrasi Lampung.
Lampung memang disebut-sebut jalur istimewa para smuggler atau penyelundup manusia, terutama para imigran gelap beberapa negara di Asia dan Afrika. Data yang dihimpun VIVAnews dari Humas Kepolisian Daerah Lampung, sejak tahun 2009 hingga medio 2012 ini, telah ditangkap sebanyak 594 orang imigran gelap. Para imigran gelap ini berasal dari beberapa negara, semisal Afghanistan, Myanmar, Iran, Irak, Nepal, hingga Madagaskar. Sedangkan untuk smuggler atau penyeludup yang telah diproses secara hukum sudah enam orang. Lampung termasuk dalam kategori level tinggi untuk kasus penyelundupan manusia. Setiap tahun jumlah imigran gelap yang tertangkap di wilayah Lampung terus meningkat.
http://nasional.news.viva.co.id/news...gun-di-lampung
------------------
Entah kita terlalu baik, atau karena mau saja dijadikan kacung Ostralie untuk melindungi negerinya dari serbuan imgran gelap, memang cukup aneh dan menarik sikap aparat keamanan negara kita ini dalam memberlaklukan imigran gelap yang destinasinya jelas-jelas menuju Australia, bukan negara Indonesia. Padahal, semenjak mereka berlayar dari negerinya di wilayah Timur Tengah (Irak, Iran) atau Asia Selatan (Afghanistan), pastilah banyak sekali negara-negara yang mereka singgahi. Faktanya, negara-negara yang pernah mereka singgahi, meskipun aparat keamanan negara itu paham kalau mereka adalah imigran gelap yang akan menuju Australian (dus bukan negerinya), mereka mengizinkan singgah sebentar, sambil memberi bekal untuk melanjutkan pelayarannya, lalu menggiring mereka menuju perairan internasional.
Ketika kapal-kapal itu banyak terdampar di sepanjang pesisir semenanjung Malaka wilayah Malaysia, Pemerintah dan aparat kemananan disana juga melakukan hal sama, mengusir mereka ke perairan internasional setelah membekali air, makanan dan bahan bakar untuk melanjutkan pelayarannya menuju Australia. Hanya di wilayah perairan kita, mereka ditangkapi dan ditampung, dan tentu itu atas restu Australia sehingga mereka sampai mau peduli dan mau membantu membangunkan asrama penampungan segala. Pertanyaannya, kenapa pemerintah dan aparat keamanan kita tidak bertindak seperti negeri-negeri lain saja? Kasih mereka bekal, lalu ditarik ke perairan internasional yang arahnya menuju Australia.
Minggu, 22/07/2012 - 21:05
JAKARTA,(PRLM).- Kepolisian ataupun aparat keamanan Indonesia tidak perlu repot-repot menangkap dan menahan para imigran dari negara-negara Asia Tengah. Sebab, mereka melintas di dekat perairan Indonesia, tujuannya bukanlah ke Indonesia tapi ke Australia. Demikian dikemukakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada "PRLM", di Jakarta, Minggu (22/7) saat mengomentari adanya puluhan imigran yang diamankan Polres Sukabumi di Pesisir Pantai Sukabumi beberapa waktu lalu.
Menurut Neta, Polri cukup mengawasi dari jauh perjalanan mereka yang akan menuju Christmas Island, Australia. "Kalaupun mereka kehabisan air dan masuk ke wilayah Indonesia, aparat Polri cukup memberikan bantuan air dan kemudian menarik perahu-perahu imigran Asia Tengah itu kembali ke perairan internasional untuk melanjutkkan perjalanannya ke negara yang mereka tuju," ujarnya.
Dia menuding, proses penangkapan dan pengamanan para imigran gelap yang akan ke Australia itu tak lain karena ada program bantuan Australia ke Polri. Dimana, setiap tahun ada 7 anggota Polri yang dididik di Australia. "Polisi-polisi yang dididik di Australia inilah yang kerap 'diperalat' atau diminta bantuannya oleh pemerintah Australia untuk mencegah para imigran dari Asia Tengah itu masuk ke Australia. Dengan cara, ditangkapi saat melintas di dekat perairan Indonesia," ucapnya.
Akan tetapi, kata dia, ironisnya setelah ditangkap, para imigran itu malah menjadi beban Polri. "Di sinilah terjadi kesalahan strategi Polri, seharusnya Polri jangan mau diperalat Australia dan program bantuan Australia ke Polri harus dihentikan," ujarnya. Selain itu, kata dia, Polri jangan mau repot-repot menangkapi para imigran Asia Tengah tersebut. "Toh mereka melintas di perairan internasional, jadi biarkan saja mereka menuju negara yg mereka tuju, yakni Australia," ujarnya.
Ia mengungkapkan, para imigran itu menjadi beban karena polisi harus memberi mereka makan selama ditahan polisi, sementara polisi tidak punya nggaran untuk itu. Terlebih lagi proses untuk sampai kembali dipulangkan ke negaranya memerlukan waktu yang cukup lama dan harus melibatkan berbagai instansi terkait."Dari tahanan Polri setelah diproses para imigran itu diserahkan ke imigrasi, untuk kemudian dipulangkan ke negara asalnya, setelah diurus perwakilan negaranya di sini," katanya.
http://www.pikiran-rakyat.com/node/196911
Australia Tujuan Akhir Imigran Gelap
Jumat, 21 May 2010
Denpasar - Enam imigran gelap yang tertangkap memasuki wilayah perairan Bali Utara, terungkap memiliki tujuan akhir Australia. "Mereka mengaku akan pergi ke Australia dengan memanfaatkan Bali sebagai daerah transit," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar, di Denpasar, Jumat (21/5). Senada dengan Kabid Humas, Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan (Wasdakim) Imigrasi Ngurah Rai Denpasar Wayan Sudana menyebutkan, dari hasil pemeriksaan, keenam imigran gelap yang kini menjadi tahanan pihaknya, diketahui memiliki tujuan akhir negeri kanguru.
Dikatakan, keenamnya mengaku berangkat dari Malaysia dengan menggunakan speedboat, namun begitu memasuki perairan Bali Utara pada Rabu (19/5) lalu, mereka tertangkap petugas patroli polisi yang memergokinya. Mereka adalah Feda Hussain (23), Abdul Azim (18), Asadullah Hazim (35) dan Rohullah (20) yang kesemuanya asal Afganistan, serta Ali Ghulam (30) dan Saad Zadeh Hassan (38) yang masing-masing warga asal Pakistan dan Iran. Pemeriksaan terhadap keenam imigran tersebut kini masih dilakukan pihak kantor Imigrasi Ngurah Rai Denpasar.
Khusus untuk imigram asal Iran dan Paksitan, menyusul diketahui petugas sebagai orang yang berusaha mencari suaka politik di negeri lain. Ini dibuktikan dengan kepemilikan surat "asylum seekers". Sudana mengakui kalau imigran asal Iran dan Pakistan sempat menunjukkan surat "asylum seekers" sebagai pemohon suaka politik. Sementara empat lainnya yang asal Afganistan, sejaun ini petugas belum menemukan bukti tertulis dari mereka.
Mengenai adanya pengakuan bahwa mereka masuk Bali bersama 15 kawannya, Sudana menyebutkan bahwa pihaknya bersama-sama petugas kepolisian terus melakukan upaya penyelidikan dan pemantauan. "Kami tetap lakukan pemantauan, namun sampai saat ini belum ada informasi dan petunjuk mengenai keberadaan mereka di Bali," ucapnya. Untuk pengusutan lebih lanjut, keenam imigran gelap yang datang dengan speedboat tersebut kini meringkuk di Rumah Tahanan Detensi Imigrasi (Rudensi) Ngurah Rai di Jimbaran, Kabupaten Badung
http://erabaru.net/nasional/50-polit...-imigran-gelap
Australia Bantu Bangun Gedung Penampung Imigran Dibangun di Lampung
Lampung dianggap strategis untuk penyelundupan manusia.
Selasa, 10 Juli 2012, 22:54
VIVAnews - Lampung kini memiliki tempat penampungan sementara para imigran ilegal yang tertangkap di wilayah hukum Lampung. Gedung berukuran 12 X 13 meter berlantai tiga ini diresmikan langsung oleh Manager Australian Federal Police (AFC) untuk Indonesia, Commander Chris Sheehan di Lampung, Selasa 10 Juli 2012. Chris juga didampingi Kabareskrim Mabes Polri Komjen Sutarman dan Kapolda Lampung Brigjen Jodie Rooseto.
Gedung yang dinamakan Gedung People Smuggling ini dibangun untuk memperlancar proses penanganan kasus imigran ilegal di Lampung. Gedung ini dibangun menggunakan dana hibah dari Kepolisian Federal Australia. Perencanaan gedung ini sudah direncanakan sejak tahun 2010 lalu, dan Lampung memang cocok untuk wilayah pembangunan gedung ini. "Lampung adalah daerah yang strategis untuk daerah perlintasan penyeludupan manusia," ujar Chris kepada wartawan.
Sementara itu, Sutarman mengatakan Mabes Polri berupaya menekan kasus penyelundupan manusia. "Kami telah melakukan upaya dengan sosialisasi ke kedutaan-kadutaan besar Indonesia yang ada di luar negeri," tuturnya. "Upaya ini sekaligus kampanye pencegahan penyelundupan manusia. Polri akan memantau negara-negara yang memberangkatkan imigran gelap melalui polisi Indonesia yang ada di kedutaan-kedutaan di negara luar. Langkah ini diharapkan mampu mencegah penyelundupan manusia," ucap Sutarman.
Pembangunan gedung ini merupakan gedung penampungan imigran ilegal yang kedua. Gedung serupa juga telah dibangun di Provinsi Banten. Menurut rencana, nantinya juga akan dibangun sembilan gedung yang sama di beberapa wilayah Indonesia. "Pembangun ini juga sekaligus sebagai bukti Polda Lampung serius menangani imigran gelap yang masuk dan tertangkap di Lampung," ucap Jodie. Selama ini, para imigran ilegal yang tertangkap di Lampung, ditampung di hotel-hotel dan kantor imigrasi Lampung.
Lampung memang disebut-sebut jalur istimewa para smuggler atau penyelundup manusia, terutama para imigran gelap beberapa negara di Asia dan Afrika. Data yang dihimpun VIVAnews dari Humas Kepolisian Daerah Lampung, sejak tahun 2009 hingga medio 2012 ini, telah ditangkap sebanyak 594 orang imigran gelap. Para imigran gelap ini berasal dari beberapa negara, semisal Afghanistan, Myanmar, Iran, Irak, Nepal, hingga Madagaskar. Sedangkan untuk smuggler atau penyeludup yang telah diproses secara hukum sudah enam orang. Lampung termasuk dalam kategori level tinggi untuk kasus penyelundupan manusia. Setiap tahun jumlah imigran gelap yang tertangkap di wilayah Lampung terus meningkat.
http://nasional.news.viva.co.id/news...gun-di-lampung
------------------
Entah kita terlalu baik, atau karena mau saja dijadikan kacung Ostralie untuk melindungi negerinya dari serbuan imgran gelap, memang cukup aneh dan menarik sikap aparat keamanan negara kita ini dalam memberlaklukan imigran gelap yang destinasinya jelas-jelas menuju Australia, bukan negara Indonesia. Padahal, semenjak mereka berlayar dari negerinya di wilayah Timur Tengah (Irak, Iran) atau Asia Selatan (Afghanistan), pastilah banyak sekali negara-negara yang mereka singgahi. Faktanya, negara-negara yang pernah mereka singgahi, meskipun aparat keamanan negara itu paham kalau mereka adalah imigran gelap yang akan menuju Australian (dus bukan negerinya), mereka mengizinkan singgah sebentar, sambil memberi bekal untuk melanjutkan pelayarannya, lalu menggiring mereka menuju perairan internasional.
Ketika kapal-kapal itu banyak terdampar di sepanjang pesisir semenanjung Malaka wilayah Malaysia, Pemerintah dan aparat kemananan disana juga melakukan hal sama, mengusir mereka ke perairan internasional setelah membekali air, makanan dan bahan bakar untuk melanjutkan pelayarannya menuju Australia. Hanya di wilayah perairan kita, mereka ditangkapi dan ditampung, dan tentu itu atas restu Australia sehingga mereka sampai mau peduli dan mau membantu membangunkan asrama penampungan segala. Pertanyaannya, kenapa pemerintah dan aparat keamanan kita tidak bertindak seperti negeri-negeri lain saja? Kasih mereka bekal, lalu ditarik ke perairan internasional yang arahnya menuju Australia.