Jakarta - Para perajin tempe dan tahu yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mengaku akan kehilangan omzet miliaran rupiah terkait aksi mogok produksi.
Rencananya para perajin tempe Jabodetabek, Banten dan Bandung akan berhenti produksi mulai 25-27 Juli 2012, sebagai protes melonjaknya harga kedelai.
Ketua II Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Sutaryo mengatakan di DKI Jakarta saja ada 4.000 perajin tempe dan tahu. Setiap bulannya mereka membutuhkan 10.000 ton kedelai atau kurang lebih memproduksi tempe 15.000 ton tempe per bulan. Jika dihitung omset mereka mencapai Rp 120 miliar per bulan, atau perharinya Rp 4 miliar.
"Mogok 3 hari, omzet yang hilang sampai miliaran rupiah. Dengan kita mogok, setidaknya konsumen tahu, bahwa harga kedelai ini bukan hanya naik, persoalannya harga kedelai harganya lompat atau ganti harga," kata Sutaryo kepada detikFinance, Senin (23/7/2012)
Sutaryo pernah menuturkan secara nasional, omset penjualan tempe dan tahu ternyata mencapai Rp 43 miliar per hari atau Rp 15 triliun per tahun.
Saat ini sedikitnya ada 115.000 perajin tahu tempe di Indonesia. Diantaranya 40.000 anggotanya di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Lampung, Pelambang, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Bali.
Dikatakan Sutaryo, para perajin tempe dan tahu tak ada pilihan lain untuk berhenti produksi sementara. Hal ini agar masalah mereka bisa diperhatikan pemerintah dan konsumen. Perajin mengaku masih harus merugi dengan memproduksi tempe disaat harga kedelai setiap hari mengalami kenaikan. Mereka menuntut adanya kestabilan harga kedelai di dalam negeri.
"Dengan kondisi kedelai setiap hari naik, kita sanggup produksi tapi tak punya untung, karena kenaikan mendadak, kalau harga tempe dan tahu naik 35% kan konsumen tak bisa terima," katanya.
Seperti diketahui perajin tempe mogok di Jabodetabek dan sekitarnya sudah terjadi beberapa kali. Terakhir terjadi pada 3-4 Februari 2011, kejadian serupa terjadi 14-16 Januari 2007.
Pada Januari 2007 harga kedelai eceran masih Rp 2.450 per kg, bulan November 2007 menjadi Rp 5.450 per kg, bulan Desember 2007 naik Rp 6.950/kg. Kemudian pada Januari 2008 harga kedelai menjadi Rp 7.250 per kg. Saat ini harga kedelai sudah tembus lebih dari Rp 8.000 per Kg yang merupakan tertinggi selama beberapa tahun terakhir.
(hen/ang)
-------------------------------
Mungkin pemerintah harus mengimpor 'meat bean' dari ostrali..... :D
Lebih 'gurih' bagi pengusaha terutama bagi 'sang penguasa'