Asap tampak membumbung di wilayah Bab Sabaa di kota Homs, Suriah, Senin (19/3). REUTERS/Shaam News Network
TEMPO.CO , Jakarta: Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat sampai pertengahan Juli 2012 ini masih ada sekitar seribu pekerja Indonesia yang terjebak di daerah konflik Suriah. Kondisi mereka terancam dan membutuhkan perlindungan segera. Kondisi keamanan yang terus memburuk dan meluasnya perang saudara di Suriah membuat mereka depresi.
"Sebagian besar orang Indonesia di Suriah bekerja di rumah tertutup, tidak punya teman," kata Saefa Nur, 26 tahun, alumnus Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, yang tengah menyelesaikan pascasarjana di Universitas Damaskus. Saefa sendiri tinggal di pinggiran Kota Damaskus. "Bukan titik perang, tapi tidak bisa kita bilang aman juga," katanya via telepon, Kamis 20 Juli 2012.
Sejak pertempuran masuk Ibukota Damaskus, awal pekan ini, Saefa memantau kondisi keamanan dari dalam rumah saja. Hal serupa dilakukan sekitar 71 pelajar Indonesia yang masih bertahan. Jalanan dan pusat-pusat keramaian lengang. Aparat berjaga-jaga di jalanan dan lokasi strategis seperti kantor pemerintahan dan fasilitas publik. "Sebentar-sebentar nanti terdengar suara dor-dor dari kejauhan," kata Saefa.
Menurut dia, hari-hari ini adalah paling mencekam selama lima tahun dia tinggal di Damaskus. Konflik-konflik sebelumnya, kata Saefa, meletup di luar kota. Namun dia memilih bertahan. "Tanggung. Sekolahnya belum selesai, kalau pulang sekarang takutnya susah balik lagi," kata Saefa.
======
semoga mbak Saefa dkk baik-baik saja ya... :)