[ X ] Close

Jumat, 20 Juli 2012

Sekolah Kartini Terancam Digusur

Quote:

[imagetag]
Sekolah Darurat Kartini, Jakarta. REUTERS/Beawiharta
TEMPO.CO, Jakarta - Bangunan itu hanya bertembok separuh, disambung anyaman kawat hingga mencapai atap. Meskipun dicat warna pink dan hijau cerah, bangunan berukuran 40x10 meter itu lebih pantas disebut gudang daripada sekolah. Apalagi, jaraknya hanya tiga meter dari rel kereta api. Letaknya pun ada di antara pergudangan Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara.

Namanya Sekolah Kartini. Di bawa bangunan yang beratap asbes itu ratusan anak menuntut ilmu. Dua orang guru kembar, Sri Irianingsih dan Sri Rossiati, mengajar mereka. "Kami sudah enam tahun menempati bangunan ini," kata Sri Rossiati.

Perempuan berambut panjang yang biasa disapa Rossi itu mengatakan jumlah murid mereka 596 anak. Mereka menempuh pendidikan berjenjang, dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). "Hari ini yang SMP dan SMA sedang ikut ujian persamaan di sekolah lain, jadi tidak datang," ujarnya.

Tak ada sekat antarkelas. Mereka duduk di bangku-bangku kecil dengan pembatas meja tulis. Anak-anak berseragam, meski tampak lusuh. Beberapa anak menyandang tas ransel dengan cap logo sebuah televisi swasta. Menurut Rossi, perlengkapan sekolah bocah-bocah itu memang bantuan dari berbagai pihak. "Maklum, kebanyakan yang sekolah di sini orang miskin," kata Rossi yang sama sekali tak menarik bayaran dari para orang tua muridnya.

Pada hari biasa, ada delapan orang guru yang mengajar secara sukarela di sekolah ini. Walaupun para guru tak datang lengkap, bu guru Rossi dan Rian tak kerepotan. Tak jarang para murid datang didampingi para ibu yang membantu "menjinakkan" anak mereka.

Di antara mereka ada Ita, 25 tahun. Dari Pasar Ikan, Penjaringan, ia berjalan kaki mengantar sekaligus menunggui Maharani, enam tahun. Putri sulungnya itu belajar membaca di kelas 1. "Saya tak ada uang buat menyekolahkan di sekolah umum," kata istri pemulung ini.

Hanya saja, kelangsungan Sekolah Kartini tak akan lama. PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana menertibkan bangunan-bangunan di sisi rel. Surat pemberitahuan untuk pengosongan lahan pun telah dilayangkan. Batas waktu pengosongan lahan adalah 9 September 2012. "Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, radius enam kilometer dari bantaran rel akan ditertibkan jika tidak berizin," kata Humas PT KAI Daerah Operasi I Mateta Rizalulhaq.

Menurut Mateta, jika tak segera dikosongkan, jajarannya akan menertibkan bangunan di bantaran rel antara Stasiun Tanjung Priok-Stasiun Kota untuk menghidupkan kembali perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) di daerah itu.

Rian dan Rossi telah merintis Sekolah Kartini sejak 1990. Prihatin melihat kondisi anak-anak jalanan yang tak bersekolah, mereka mengajar mereka di beberapa lokasi, di antaranya Bandengan, kolong tol Pluit dan Lodan, Kalijodo serta Penjaringan. "Semuanya digusur, tinggal satu ini, sekarang mau digusur juga," kata Rian, saudara kembar Rossi.

Ia belum tahu akan pindah ke mana bila sekolah daruratnya itu benar-benar digusur. "Mungkin kembali ke kolong tol," ujarnya.
Quote:

komentar
kasian juga kalo sekolah itu harus digusur
karena masih banyak anak2 krang mampu yang menuntut ilmu disana :berdukas