JAKARTA, KOMPAS.com - Di dalam ruang tahanan sempit berukuran 1 x 3,5 meter, A (14) tampak sendirian termenung sambil berdiri. Kakinya yang tak menggunakan alas langsung menempel ke ubin yang dingin. Tatapan matanya terlihat lurus ke depan. Tubuh kurus kering remaja berambut pirang ini sebenarnya memperlihatkan kesan yang jauh dari seram.
Namun, mengingat apa yang dilakukannya pada Rabu (18/7/2012) dini hari terhadap Jordan Raturomon (50) dan anaknya, Edward Raturomon (20), A mau tak mau harus mempertanggungjawabkan tindakannya yang telah menghabisi dua nyawa ayah dan anak tersebut.
Kepada wartawan, A menuturkan dirinya ketakutan dan ingin segera kembali kepada kedua orang tuanya. Berikut petikan wawancara dengan A, saat dijumpai di tahanan Mapolresta Depok, Jumat (20/7/2012) malam.
Tanya (T): Bagaimana awal perkenalan A dengan Jordan dan Edward?
Jawab (J): Yang kenal itu D (tersangka lain). Saya dikenalin sama D karena waktu itu butuh duit Rp 1 juta untuk bayar utang ke bos saya, DD (tersangka lain).
T: Memang uang Rp 1 juta itu untuk apa?
J: Dulu saya pernah kena tipu. Naik motor, ternyata itu motor yang platnya sudah diganti. Saya dicegat polisi dan langsung ditahan. DD bayar uang tebusan Rp 1 juta untuk membebaskan saya.
T: Lalu, rencana pembunuhan itu dilakukan berlima?
J: Enggak, saya cuma diajak sama D. Enggak ngerti kalau ada orang lainnya.
T: Kenapa akhirnya nekat melakukan tindakan itu (membunuh)?
J: Saya ditawari motor dan uang sama D. Lagian, saya juga enggak kuat bayar utang ke Om Jordan.
T: Apa tidak takut?
J: Saya ketakutan. Panik, itu jelas. Tapi saya ingin sekali punya motor. Selama ini belum punya. Uangnya ingin saya pakai untuk bikin usaha, usaha rongsokan.
T: Bisa diceritakan bagaimana rencana (pembunuhan) itu akhirnya dilakukan?
J: Jadi, saya sama D pura-pura bertamu ke rumah Om Jordan pas Selasa tengah malam itu. Om Jordan bukain pintu. Kita akhirnya ngobrol-ngobrol di ruang tamu. D lebih banyak yang ngobrol, saya lebih banyak diam, sambil tidur-tiduran di ubin.
T: Ngobrol tentang apa saja?
J: Ngobrol biasa gitu aja. Om Jordan cerita, dia minta dicarikan orang pintar buat cari istrinya. Kan dia ditinggal pergi istrinya. Terus D nyanggupin.
T: Sempat cekcok soal utang?
J: Enggak ada sama sekali. Hanya ngobrol santai saja. Tapi tiba-tiba, D berdiri. Saya terus ngobrol sama om Jordan. D sudah berdiri di belakang om Jordan, sambil pegang martil dan dipukulnya ke bagian kepala Om Jordan. Dia sama sekali enggak lawan dan langsung terjatuh.
T: Bagaimana kondisi Om Jordan ketika itu? Sempat sadarkan diri?
J: Sempat. Habis dipukul D, dia sempat sedikit bangun. Tapi D langsung pegang kapak dan ditusuk berkali-kali di mana-mana.
T: Saat itu, apa yang A lakukan?
J: Saya diam saja. Saya bertugas jagain Om Jordan dan lihat-lihat keluar agar enggak ada yang tahu.
T: Lalu, kenapa Edward juga ikut dieksekusi?
J: Kita ketakutan, karena anaknya Om Jordan ternyata ada di dalam kamar. Kita takut ketahuan. Akhirnya, D langsung ke kamar Edward. Dia ternyata lagi tidur. Tapi, tetap dipukul D. Edward sempat melawan, akhirnya ditusuk pakai pisau dapur.
T: Kapak, martil, pisau itu sudah disiapkan?
J: Iya, sudah. Dibawa sama D dari awal. Rencananya, memang begitu.
T: Setelah kejadian di dalam rumah, A ke mana?
J: Saya langsung pulang ke rumah orangtua. Dikasih uang sama D Rp 100.000.
T: Bagaimana dengan perhiasan, sepeda motor, dan uang Rp 10 juta punya Jordan?
J: Itu dibawa semua sama D, termasuk alat-alat yang buat nyerang om Jordan dan Edward. Saya pisah sama D.
T: Bisa dijelaskan hubungan A dengan pelaku-pelaku lain?
J: Kenal memang sama semua. Saya ini pemulung. Kenal-kenalnya dari situ. D itu teman sekampung saya di Sawangan, sedangkan DD itu bos saya di lapak.
T: Sudah berapa lama memulung?
J: Habis tamat SD, langsung mulung karena enggak bisa lanjutin sekolah. Enggak ada biaya. Ibu enggak kerja, kalau bapak kerja apa saja, enggak jelas.
T: A anak ke berapa?
J: Saya anak ketiga dari lima bersaudara.
T: Apa harapan dan pelajaran yang diambil dari kejadian ini?
J: Saya menyesal sekali, Mbak. Saya cuma ingin pulang sama orangtua. Saya takut. Kangen sama rumah. Apalagi bulan puasa, saya pingin di rumah.
Suara A kemudian mulai lirih. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Posisi A yang awalnya berdiri, kemudian langsung merosot ke lantai. Tak ada lagi suara yang muncul darinya. Ketika ditanyakan kembali, A hanya berseru kecil, "Tidak".
Hawa dingin malam itu, merasuk ke dalam sel tahanan sempit yang dihuni A. Ia terlihat merebahkan dirinya hendak beristirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Namun, suara seorang petugas kepolisian yang memberinya makan malam, membuatnya kembali bangkit. Ia pun terlihat lahap memakan santapan malamnya itu. Di sel tahanan Mapolresta Depok, A ditahan terpisah karena masih di bawah umur.
Namun, di sel lainnya, polisi sudah menahan tiga orang lainnya yakni KS (25), PP (35), dan DD (20) yang berperan sebagai otak perencanaan kasus pembunuhan sadis ini. Sementara, satu orang lainnya yakni D masih buron.
Seluruh tersangka memiliki utang ke Jordan yang jumlah keseluruhannya mencapai Rp 25 juta sehingga tega menghabisi nyawa Jordan dan anaknya. Jasad Jordan dan Edward, ditemukan Kezia (13), anak bungsu Jordan, pada Rabu siang. Saat itu, Kezia baru pulang menginap usai kegiatan MOS di sekolahnya. Ia terkejut saat masuk ke dalam rumah ada bercak darah menuju kamar mandi.
Kezia pun menyusuri jejak itu dan akhirnya menemukan ayah dan kakaknya sudah tewas bersimbah darah di dalam kamar mandi. Seluruh tersangka dijerat dengan pasal 340 KUHP dan 365 KUHP dengan ancaman hukuman sampai 20 tahun penjara.
LINK
MIRIS tapi HUKUM HARUS TETAP BERJALAN
Namun, mengingat apa yang dilakukannya pada Rabu (18/7/2012) dini hari terhadap Jordan Raturomon (50) dan anaknya, Edward Raturomon (20), A mau tak mau harus mempertanggungjawabkan tindakannya yang telah menghabisi dua nyawa ayah dan anak tersebut.
Kepada wartawan, A menuturkan dirinya ketakutan dan ingin segera kembali kepada kedua orang tuanya. Berikut petikan wawancara dengan A, saat dijumpai di tahanan Mapolresta Depok, Jumat (20/7/2012) malam.
Tanya (T): Bagaimana awal perkenalan A dengan Jordan dan Edward?
Jawab (J): Yang kenal itu D (tersangka lain). Saya dikenalin sama D karena waktu itu butuh duit Rp 1 juta untuk bayar utang ke bos saya, DD (tersangka lain).
T: Memang uang Rp 1 juta itu untuk apa?
J: Dulu saya pernah kena tipu. Naik motor, ternyata itu motor yang platnya sudah diganti. Saya dicegat polisi dan langsung ditahan. DD bayar uang tebusan Rp 1 juta untuk membebaskan saya.
T: Lalu, rencana pembunuhan itu dilakukan berlima?
J: Enggak, saya cuma diajak sama D. Enggak ngerti kalau ada orang lainnya.
T: Kenapa akhirnya nekat melakukan tindakan itu (membunuh)?
J: Saya ditawari motor dan uang sama D. Lagian, saya juga enggak kuat bayar utang ke Om Jordan.
T: Apa tidak takut?
J: Saya ketakutan. Panik, itu jelas. Tapi saya ingin sekali punya motor. Selama ini belum punya. Uangnya ingin saya pakai untuk bikin usaha, usaha rongsokan.
T: Bisa diceritakan bagaimana rencana (pembunuhan) itu akhirnya dilakukan?
J: Jadi, saya sama D pura-pura bertamu ke rumah Om Jordan pas Selasa tengah malam itu. Om Jordan bukain pintu. Kita akhirnya ngobrol-ngobrol di ruang tamu. D lebih banyak yang ngobrol, saya lebih banyak diam, sambil tidur-tiduran di ubin.
T: Ngobrol tentang apa saja?
J: Ngobrol biasa gitu aja. Om Jordan cerita, dia minta dicarikan orang pintar buat cari istrinya. Kan dia ditinggal pergi istrinya. Terus D nyanggupin.
T: Sempat cekcok soal utang?
J: Enggak ada sama sekali. Hanya ngobrol santai saja. Tapi tiba-tiba, D berdiri. Saya terus ngobrol sama om Jordan. D sudah berdiri di belakang om Jordan, sambil pegang martil dan dipukulnya ke bagian kepala Om Jordan. Dia sama sekali enggak lawan dan langsung terjatuh.
T: Bagaimana kondisi Om Jordan ketika itu? Sempat sadarkan diri?
J: Sempat. Habis dipukul D, dia sempat sedikit bangun. Tapi D langsung pegang kapak dan ditusuk berkali-kali di mana-mana.
T: Saat itu, apa yang A lakukan?
J: Saya diam saja. Saya bertugas jagain Om Jordan dan lihat-lihat keluar agar enggak ada yang tahu.
T: Lalu, kenapa Edward juga ikut dieksekusi?
J: Kita ketakutan, karena anaknya Om Jordan ternyata ada di dalam kamar. Kita takut ketahuan. Akhirnya, D langsung ke kamar Edward. Dia ternyata lagi tidur. Tapi, tetap dipukul D. Edward sempat melawan, akhirnya ditusuk pakai pisau dapur.
T: Kapak, martil, pisau itu sudah disiapkan?
J: Iya, sudah. Dibawa sama D dari awal. Rencananya, memang begitu.
T: Setelah kejadian di dalam rumah, A ke mana?
J: Saya langsung pulang ke rumah orangtua. Dikasih uang sama D Rp 100.000.
T: Bagaimana dengan perhiasan, sepeda motor, dan uang Rp 10 juta punya Jordan?
J: Itu dibawa semua sama D, termasuk alat-alat yang buat nyerang om Jordan dan Edward. Saya pisah sama D.
T: Bisa dijelaskan hubungan A dengan pelaku-pelaku lain?
J: Kenal memang sama semua. Saya ini pemulung. Kenal-kenalnya dari situ. D itu teman sekampung saya di Sawangan, sedangkan DD itu bos saya di lapak.
T: Sudah berapa lama memulung?
J: Habis tamat SD, langsung mulung karena enggak bisa lanjutin sekolah. Enggak ada biaya. Ibu enggak kerja, kalau bapak kerja apa saja, enggak jelas.
T: A anak ke berapa?
J: Saya anak ketiga dari lima bersaudara.
T: Apa harapan dan pelajaran yang diambil dari kejadian ini?
J: Saya menyesal sekali, Mbak. Saya cuma ingin pulang sama orangtua. Saya takut. Kangen sama rumah. Apalagi bulan puasa, saya pingin di rumah.
Suara A kemudian mulai lirih. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Posisi A yang awalnya berdiri, kemudian langsung merosot ke lantai. Tak ada lagi suara yang muncul darinya. Ketika ditanyakan kembali, A hanya berseru kecil, "Tidak".
Hawa dingin malam itu, merasuk ke dalam sel tahanan sempit yang dihuni A. Ia terlihat merebahkan dirinya hendak beristirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Namun, suara seorang petugas kepolisian yang memberinya makan malam, membuatnya kembali bangkit. Ia pun terlihat lahap memakan santapan malamnya itu. Di sel tahanan Mapolresta Depok, A ditahan terpisah karena masih di bawah umur.
Namun, di sel lainnya, polisi sudah menahan tiga orang lainnya yakni KS (25), PP (35), dan DD (20) yang berperan sebagai otak perencanaan kasus pembunuhan sadis ini. Sementara, satu orang lainnya yakni D masih buron.
Seluruh tersangka memiliki utang ke Jordan yang jumlah keseluruhannya mencapai Rp 25 juta sehingga tega menghabisi nyawa Jordan dan anaknya. Jasad Jordan dan Edward, ditemukan Kezia (13), anak bungsu Jordan, pada Rabu siang. Saat itu, Kezia baru pulang menginap usai kegiatan MOS di sekolahnya. Ia terkejut saat masuk ke dalam rumah ada bercak darah menuju kamar mandi.
Kezia pun menyusuri jejak itu dan akhirnya menemukan ayah dan kakaknya sudah tewas bersimbah darah di dalam kamar mandi. Seluruh tersangka dijerat dengan pasal 340 KUHP dan 365 KUHP dengan ancaman hukuman sampai 20 tahun penjara.
LINK
MIRIS tapi HUKUM HARUS TETAP BERJALAN