[ X ] Close

Senin, 23 Juli 2012

HP Kapolres Tanjung Perak Ditemukan Penjual Nasi

Surabaya - Sesosok penjual nasi terpaku pada sebuah kotak hitam di lantai berundak Masjid Ampel Surabaya. Orang yang lalu lalang tidak memperhatikan benda itu usai salat. Penjual nasi bernama Daimah pun memungutnya.

Ternyata benda itu adalah sebuah ponsel. Perempuan 45 tahun itu tak menyangka jika ponsel yang ditemukannya adalah ponsel milik AKBP Anom Wibowo, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak.

"Saya bingung. Saya pencet-pencet kok tidak ada suaranya. Beda seperti HP saya yang kalau dipencet ada suaranya," kata Daimah polos di Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Selasa (24/7/2012).

Tentu saja ponsel tersebut berbeda dengan ponsel berkeypad milik Daimah. Ponsel yang ditemukan penjual nasi di gang samping McDonald Basuki Rahmat itu adalah iPhone yang touch screen sehingga tak memiliki keypad secara fisik. Dengan tangan gemetar, perempuan yang tinggal di Jalan Kaliasin VII itu menyimpan dan membawanya pulang.

"Esok harinya HP itu saya serahkan ke Pak Edi, tetangga saya yang mungkin lebih tahu. Saya ingin mengembalikan yang bukan milik saya, tetapi tak tahu caranya. Barangkali Pak Edi bisa membantu," tambah Daimah.

Ternyata Edi juga tidak tahu. Pria bernama lengkap Edi Waluyo itu kemudian menyerahkan ke anaknya yang kebetulan bekerja di sebuah konter HP. Di tangan anak Edi, ponsel itu dapat dioperasikan. Setelah diutak-atik, diketahui jika pemilik ponsel itu bernama Anom.

"Saat itu saya tidak tahu siapa Anom ini. Karena itu saya mengirim SMS ke nomor milik Anom yang lain. Saya menanyakan apa ciri-ciri HP yang hilang dan dimana hilangnya. Ternyata jawabannya benar," ujar Edi.

Pria 59 tahun itu pun berinisiatif menelepon Anom. Karena suara Edi yang kurang jelas karena saat itu sedang menghadiri acara keluarga, Anom pun menelepon balik. Dan disepakati Anom akan menemui mereka.

Anom sendiri mengakui bahwa ponsel miliknya memang sempat hilang Kamis (19/7/2012). Saat itu ia memang menyempatkan diri melakukan patroli dan melakukan pengawasan rutin di kawasan Ampel.

"Ampel kalau malam Jumat kan ramai. Saya taruh mobil di Polsek Semampir, saya ke Ampel membonceng motor anggota. Hal terakhir yang saya ingat, saya meletakkan ponsel tetapi lupa mengambilnya saat duduk-duduk di masjid Ampel. Jadi ponselnya bukan jatuh," ujar Anom.

10 Menit meninggalkan Ampel, perwira asal Jember itu baru menyadari jika ponselnya sudah tidak ada di tempatnya. Sadar jika ponselnya ketinggalan, Anom balik lagi ke masjid Ampel.

"Saat kembali ponsel itu sudah hilang. Orang-orang di lokasi mencoba membantu mencari tetapi tidak ketemu," lanjut mantan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya itu.

Esoknya, Anom memblokir nomor ponselnya tersebut dan mau tak mau harus merelakan ponsel bercasing hitam itu.

"Sebenarnya bukan pada ponselnya, tetapi isi di dalamnya yang berupa nomor-nomor penting dan data-data lain. Setelah kejadian itu, saya nelpon banyak orang termasuk Kapolda, mengabarkan kalau ponsel dengan nomor itu hilang. Saya tidak mau dibilang tidak mau terima telepon. Padahal ponselnya hilang," jelas Akpol angkatan 1994 itu.

Saat mendengar ada orang yang akan mengembalikan ponselnya, Anom girang setengah mati. Selain nomor-nomor penting dan data terselamatkan, Anom senang karena masih ada orang yang masih mempunyai kejujuran dan kepedulian, sesuatu yang sudah jarang ditemukan, terlebih di saat ini.

"Tangan saya selalu gemetar kalau memegang benda yang bukan milik saya. Sebelumnya saya pernah menemukan kalung dan sama juga, tangan saya gemetaran. Kalau saya ambil barang itu, saya takut berurusan dengan yang di atas (Tuhan). Apalagi ini bulan Ramadan," terang Daimah di hadapan Anom.

Bahkan ibu 4 anak itu menolak pemberian permintaan terima kasih yang disodorkan Anom. "Tidak tidak. Demi Allah, saya ikhas. Saya tidak ada maksud apa-apa. Saya sudah senang bisa mengembalikan HP itu," tandas Daimah.


http://surabaya.detik..com/comment/2...n-penjual-nasi
-----------------------------------------------

Alhamdullilah, mudah2an semua terutama Polisi bisa belajar dari kesederhaan dan kejujuran seorang Daimah...tidak semuanya harus menggunakan uang, apalagi kalau didapt tidak dengan cara halal... :iloveindonesias