Kampung Kubur, yang lama dikenal sebagai 'lokalisasi' terbesar sabu-sabu di Kota Medan, kemarin (18/7) siang digrebek. Tak tanggung, 400 polisi diturunkan. Tapi para bandar dan ratusan 'pemake' yang saban hari ke luar masuk kampung sabu itu, telah tahu rencana penyergapan besar itu.
Massa polisi bersenjata lengkap gabungan personil Reskrim, Dit Narkoba, dan Sabhara Polda Sumut itu dipimpin Kompol H. Jaya Santoso. Sosok ini pernah hampir diamuk massa saat menangkap seorang bandar narkoba di Kampung Kubur. Puluhan personil Satpol PP turut menguatkan aksi penggrebekan di kampung yang berada di Jl. Zainul Arifin, Medan. Kampung Kubur, idola banyak personil Polri dan TNI yang kecanduan sabu, itu persisnya berada di belakang gedung jangkung Cambridge.
Penggrebekan dimulai tempat pukul 2 siang. Guna mengepung kawasan 'lokalisasi' sabu terkenal ini, tim dibelah 2. Ya, 200 polisi menyergap dari sebuah gang dekat jembatan Sungai Babura (belakang Cambridge), tim lain masuk dari arah Jl. Kejaksaan, Medan. Tim pertama, yang merangsek ke dalam gang di tepi Jl. Zainul Arifin, itu langsung menyergap sebuah rumah 2 lantai bercat merah jambu yang di bagian depannya terdapat warung. Wartawan Anda masuk dalam tim ini.
Rumah dihuni Suriyadi Wardi alias Aloy alias Budu (49) itu langsung dimasuki massa polisi. Budu adalah 1 dari 11 bandar besar sabu target Polda Sumut. Di Kampung Kubur, menurut Kompol Jaya, pihaknya menarget 3 bandar besar.
Nah, bak petir di siang bolong, kedatangan massa polisi berseragam lengkap kontan membuat Budu lari ke lantai 2 rumahnya. Ia masuk ke kamar anaknya lalu pura-pura tidur. Susan, putri Budu, yang menyambut kedatangan tamu-tamu tak diundang itu tak bisa menahan massa polisi yang merangsek ke dalam rumahnya. Seisi rumah langsung digeledah. Dari kamar di lantai 1, polisi tak menemukan sabu. Yang dicari-cari ditemukan saat menggeledah ruangan dapur. Lima jie (gram) sabu ditemukan dalam kantong alas atas kulkas.
Budu, yang tak berkutik saat ditemukan di kamar putrinya di lantai atas rumah, pun langsung digeledah. Dari kantong celana jins ponggolnya, ditemukan duit lebih Rp17 juta. Persisnya Rp17.350.000. Diyakini itu uang hasil penjualan sabu, duit bergepok itu pun disita. Uang puluhan juta selanjutnya kembali ditemukan usai polisi mengusut temuan sebuah kunci dari kantong celana Budu. Ternyata itu kunci lemari di kamarnya. Nah, saat lemari digeledah, duit bergepok-gepok itu pun ditemukan. Diyakini masih sebagai hasil penjualan sabu, duit puluhan juta itu juga disita meski Budu dan putrinya kukuh mengaku itu uang hasil usaha warung depan rumah mereka. Total uang yang disita dari rumah Budu sekira Rp83 juta. Dua unit laptop juga turut disita polisi.
"Itu bukan hasil penjualan sabu, itu uang hasil kedai, janganlah diambil uang anakku itu. Kasihan nanti ia nggak bisa belanja," rengek Budu, pria berdarah Tionghoa yang dadanya dirajah tato itu.
"Itu uang belanja dari kedai depan, bukan uang bapak itu. Janganlah diambil uang itu, gimana kami mau belanja nanti," sambung Susan, yang telah berkeluarga dan tengah hamil. Di sela ayahnya digelandang ke mobil dan jadi tontonan orang banyak, Susan terus mendesak polisi agar uang puluhan juta rupiah dari lemari itu dikembalikan. Polisi tak memedulikan rengekan Susan.
Selain Susan dan Budu, dari rumah itu juga ditemukan gadis 20 tahun. Umay, gadis itu, ternyata berstatus kos di rumah Budu. Umay mengaku kuliah di Fakultas Ekonomi USU. Bersama Susan, Umay jadi saksi penggeledahan Polri terhadap rumah bandar sabu ini.
Usai mengamankan Budu, massa polisi lalu menuju rumah 2 bandar besar lain di Kampung Kubur. Sayang, yang dicari masing-masing tak berada di rumah. Jk dan Rk, 2 bandar sabu ditarget itu, sebelumnya disyaki telah mengetahui rencana penyergapan kemarin.
"Ada target kita yang berada di belakang rumah B yakni Ramki. Ia itu target operasi juga, yang rumahnya ada CCTV nya. Ada 2 sasaran yang tidak ada di tempat dan kita mendapati sabu tanpa pemilik dari dalam tong sampah. Jadi masih kita lakukan pengembangan untuk mengetahui siapa pemilik sabu itu," jelas Kompol Jaya.
Sama seperti aksi Tim I, massa polisi di Tim II yang menyergap Kampung Kubur dari arah Jl. Kejaksaan, pun langsung menyisir sejumlah rumah di kawasan itu yang selama ini diketahui jadi lokasi mengonsumsi sabu. Tapi sangat tak biasa seperti hari-hari biasa, polisi tak menemukan aktivitas para pemake sabu. Hanya 2 cowok yang diduga baru usai mengonsumsi sabu ditemukan.
Duo cowok tersergap razia besar itu adalah Romi (36), warga Jl. S Parman, Gang Rumbia, Medan, serta Dedi Efendi (36) warga Jl. Pintu Air, Medan. Dari Romi ditemukan selinting ganja. Sementara dari Dedi, yang berstatus PNS dan mahasiswa Program S-2 USU dan datang ke Kampung Kubur dengan mengendarai Avanza BK 1156 JZ, itu ditemukan bong atau alat hisap sabu.
"Dedi Efendi diduga usai 'menggunakan' sabu. Bicaranya ngawur. Romi sendiri sedang mengisap lintingan ganja yang dibuang karena terkejut saat polisi masuk melakukan penggerebekan," jelas Kasubdit II Poldasu AKBP RB Damanik.
"Nggak tahu aku entah punya siapa (bong) ini, tiba-tiba saja ada di kantongku. Masuk sendiri mungkin tadi," celoteh Dedi seraya terus mengecap-ngecap bibirnya mirip orang yang lagi 'ketinggian' usai menyedot sabu. Celoteh ngawur Dedi kontan bikin sejumlah polisi yang mengerumuninya tertawa-tawa. Hingga kemarin, bersama Budu, Romi dan Dedi masih meringkuk di sel Polda Sumut seraya diperiksa polisi penyidik. AKBP RB Damanik mengaku akan terus mengendus 2 bandar besar di Kampung Kubur yang lolos dari penyergapan besar kemarin. (bay/ala/sal)
========
http://www.posmetro-medan.com/?p=4772
========
400 polisi sergap 2 bandar.. ehhh, ga dapat juga :D
ga tau apakah itu yg kena garuk asli apa kambing itam...
anyway, kali ini bukan bang RIZAL
Massa polisi bersenjata lengkap gabungan personil Reskrim, Dit Narkoba, dan Sabhara Polda Sumut itu dipimpin Kompol H. Jaya Santoso. Sosok ini pernah hampir diamuk massa saat menangkap seorang bandar narkoba di Kampung Kubur. Puluhan personil Satpol PP turut menguatkan aksi penggrebekan di kampung yang berada di Jl. Zainul Arifin, Medan. Kampung Kubur, idola banyak personil Polri dan TNI yang kecanduan sabu, itu persisnya berada di belakang gedung jangkung Cambridge.
Penggrebekan dimulai tempat pukul 2 siang. Guna mengepung kawasan 'lokalisasi' sabu terkenal ini, tim dibelah 2. Ya, 200 polisi menyergap dari sebuah gang dekat jembatan Sungai Babura (belakang Cambridge), tim lain masuk dari arah Jl. Kejaksaan, Medan. Tim pertama, yang merangsek ke dalam gang di tepi Jl. Zainul Arifin, itu langsung menyergap sebuah rumah 2 lantai bercat merah jambu yang di bagian depannya terdapat warung. Wartawan Anda masuk dalam tim ini.
Rumah dihuni Suriyadi Wardi alias Aloy alias Budu (49) itu langsung dimasuki massa polisi. Budu adalah 1 dari 11 bandar besar sabu target Polda Sumut. Di Kampung Kubur, menurut Kompol Jaya, pihaknya menarget 3 bandar besar.
Nah, bak petir di siang bolong, kedatangan massa polisi berseragam lengkap kontan membuat Budu lari ke lantai 2 rumahnya. Ia masuk ke kamar anaknya lalu pura-pura tidur. Susan, putri Budu, yang menyambut kedatangan tamu-tamu tak diundang itu tak bisa menahan massa polisi yang merangsek ke dalam rumahnya. Seisi rumah langsung digeledah. Dari kamar di lantai 1, polisi tak menemukan sabu. Yang dicari-cari ditemukan saat menggeledah ruangan dapur. Lima jie (gram) sabu ditemukan dalam kantong alas atas kulkas.
Budu, yang tak berkutik saat ditemukan di kamar putrinya di lantai atas rumah, pun langsung digeledah. Dari kantong celana jins ponggolnya, ditemukan duit lebih Rp17 juta. Persisnya Rp17.350.000. Diyakini itu uang hasil penjualan sabu, duit bergepok itu pun disita. Uang puluhan juta selanjutnya kembali ditemukan usai polisi mengusut temuan sebuah kunci dari kantong celana Budu. Ternyata itu kunci lemari di kamarnya. Nah, saat lemari digeledah, duit bergepok-gepok itu pun ditemukan. Diyakini masih sebagai hasil penjualan sabu, duit puluhan juta itu juga disita meski Budu dan putrinya kukuh mengaku itu uang hasil usaha warung depan rumah mereka. Total uang yang disita dari rumah Budu sekira Rp83 juta. Dua unit laptop juga turut disita polisi.
"Itu bukan hasil penjualan sabu, itu uang hasil kedai, janganlah diambil uang anakku itu. Kasihan nanti ia nggak bisa belanja," rengek Budu, pria berdarah Tionghoa yang dadanya dirajah tato itu.
"Itu uang belanja dari kedai depan, bukan uang bapak itu. Janganlah diambil uang itu, gimana kami mau belanja nanti," sambung Susan, yang telah berkeluarga dan tengah hamil. Di sela ayahnya digelandang ke mobil dan jadi tontonan orang banyak, Susan terus mendesak polisi agar uang puluhan juta rupiah dari lemari itu dikembalikan. Polisi tak memedulikan rengekan Susan.
Selain Susan dan Budu, dari rumah itu juga ditemukan gadis 20 tahun. Umay, gadis itu, ternyata berstatus kos di rumah Budu. Umay mengaku kuliah di Fakultas Ekonomi USU. Bersama Susan, Umay jadi saksi penggeledahan Polri terhadap rumah bandar sabu ini.
Usai mengamankan Budu, massa polisi lalu menuju rumah 2 bandar besar lain di Kampung Kubur. Sayang, yang dicari masing-masing tak berada di rumah. Jk dan Rk, 2 bandar sabu ditarget itu, sebelumnya disyaki telah mengetahui rencana penyergapan kemarin.
"Ada target kita yang berada di belakang rumah B yakni Ramki. Ia itu target operasi juga, yang rumahnya ada CCTV nya. Ada 2 sasaran yang tidak ada di tempat dan kita mendapati sabu tanpa pemilik dari dalam tong sampah. Jadi masih kita lakukan pengembangan untuk mengetahui siapa pemilik sabu itu," jelas Kompol Jaya.
Sama seperti aksi Tim I, massa polisi di Tim II yang menyergap Kampung Kubur dari arah Jl. Kejaksaan, pun langsung menyisir sejumlah rumah di kawasan itu yang selama ini diketahui jadi lokasi mengonsumsi sabu. Tapi sangat tak biasa seperti hari-hari biasa, polisi tak menemukan aktivitas para pemake sabu. Hanya 2 cowok yang diduga baru usai mengonsumsi sabu ditemukan.
Duo cowok tersergap razia besar itu adalah Romi (36), warga Jl. S Parman, Gang Rumbia, Medan, serta Dedi Efendi (36) warga Jl. Pintu Air, Medan. Dari Romi ditemukan selinting ganja. Sementara dari Dedi, yang berstatus PNS dan mahasiswa Program S-2 USU dan datang ke Kampung Kubur dengan mengendarai Avanza BK 1156 JZ, itu ditemukan bong atau alat hisap sabu.
"Dedi Efendi diduga usai 'menggunakan' sabu. Bicaranya ngawur. Romi sendiri sedang mengisap lintingan ganja yang dibuang karena terkejut saat polisi masuk melakukan penggerebekan," jelas Kasubdit II Poldasu AKBP RB Damanik.
"Nggak tahu aku entah punya siapa (bong) ini, tiba-tiba saja ada di kantongku. Masuk sendiri mungkin tadi," celoteh Dedi seraya terus mengecap-ngecap bibirnya mirip orang yang lagi 'ketinggian' usai menyedot sabu. Celoteh ngawur Dedi kontan bikin sejumlah polisi yang mengerumuninya tertawa-tawa. Hingga kemarin, bersama Budu, Romi dan Dedi masih meringkuk di sel Polda Sumut seraya diperiksa polisi penyidik. AKBP RB Damanik mengaku akan terus mengendus 2 bandar besar di Kampung Kubur yang lolos dari penyergapan besar kemarin. (bay/ala/sal)
========
http://www.posmetro-medan.com/?p=4772
========
400 polisi sergap 2 bandar.. ehhh, ga dapat juga :D
ga tau apakah itu yg kena garuk asli apa kambing itam...
anyway, kali ini bukan bang RIZAL